Sejarah Hubungan SBY-Megawati, Bikin Demokrat Sulit Merapat ke Koalisi Jokowi

Bagi dia, meski kader Demokrat, termasuk SBY, sudah mencoba jalin silaturahmi ke elite PDIP, namun belum bisa mencairkan komunikasi dengan Megawati

Sejarah Hubungan SBY-Megawati, Bikin Demokrat Sulit Merapat ke Koalisi Jokowi

Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean

Jakarta, BerlimaNews - Partai Demokrat memperlihatkan kemesraan hubungan politik dengan Gerindra jelang pendaftaran calon presiden dan wakil presiden untuk Pemilu 2019. Elite Demokrat menjelaskan alasan lebih dekat dengan koalisi Prabowo Subianto ketimbang Joko Widodo. Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean, mengatakan sejarah hubungan antara Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri masih jadi memori yang membekas.

Bagi dia, meski kader Demokrat, termasuk SBY, sudah mencoba jalin silaturahmi ke elite PDIP, namun belum bisa mencairkan komunikasi dengan Megawati. Alasan ini yang dinilainya sulit buat Demokrat merapat ke koalisi Jokowi. "Kalau di internal Demokrat bahkan Pak SBY sama sekali tidak jadi penghalang dan ingin membina silaturahmi hubungan baik. Tapi, tampaknya justru dari pihak bu Mega yang enggan dan masih membekas," ujar Ferdinand, Selasa, (10/07/2018).

Dia menekankan hal ini jelas berpengaruh terhadap sikap koalisi Demokrat untuk Pilpres 2019. Menurutnya, Demokrat untuk koalisi di Pilpres 2019 perlu persamaan pemahaman dan bukan ditentukan hanya sepihak. "Demokrat ingin koalisi yang dibangun dengan kesetaraan mutual respect. Membicarakan cawapres, visi misi secara bersama-sama," tuturnya.

Ferdinand membandingkan dengan koalisi Prabowo yang dinilainya masih mengedepankan mutual respect. Ia menyebut koalisi Prabowo menghargai aspirasi Demokrat soal Pilpres 2019. "Tentu dengan kondisi tersebut, kami mungkin akan lebih komunikasi dengan Prabowo dengan Gerindra yang masih mungkin untuk bersama," jelasnya.

Hubungan politik antara SBY dengan Megawati berawal persaingan menuju Pemilu Presiden 2004. Saat itu, SBY yang didorong Demokrat maju menjadi capres untuk melawan Megawati. Sikap politik SBY ini menjadi sorotan karena ketika itu statusnya sebagai Menteri Politik, Hukum, dan Keamanan Kabinet Gotong Royong pemerintahan Megawati. Hubungan dingin antara SBY dan Mega dimulai sejak itu.

Gayung bersambut dengan respons suami Megawati, Taufik Kiemas yang menyindir SBY seperti jenderal bintang empat kayak anak kecil. SBY pun mengundurkan diri dari posisi Menko Polhukam. Momen politik ini terjadi kurang dari dua bulan menjelang pendaftaran Pilpres 2004. Di Pilpres 2004, SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla mengalahkan duet Megawati-Hasyim Muzadi. Di putaran dua, SBY-JK unggul telak dari Mega-Hasyim dengan perolehan 60,62 persen berbanding 39,38 persen.