Tes Psikologi Saat Pembuatan SIM Dinilai Kurang Tepat Untuk Merubah Prilaku Pengemudi

Untuk mengubah prilaku para pengemudi kendaraan, dirasa tidak cukup hanya dengan menerapkan tes psikologi saat pembuatan SIM.

Tes Psikologi Saat Pembuatan SIM Dinilai Kurang Tepat Untuk Merubah Prilaku Pengemudi

Tes praktek saat pembuatan SIM. (Istimewa)

Jakarta, BerlimaNews - Penerapan tes psikologi saat pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM), masih dinilai kurang tepat jika dihubungkan dengan sikap pengendara saat di jalan. Seperti yang dijelaskan oleh Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu.

Jusri menjelaskan sikap pengemudi yang baik bisa saja hanya muncul saat pembuat SIM menghadapi tes psikologi yang diikuti tes praktek mengemudi sebagai sejumlah persyaratan yang harus dilewati.  Perilaku pengemudi justru akan berubah, ketika mereka telah memiliki SIM. 

"Kalau mau lihat jawabannya bagaimana ketertiban pengemudi di jalan raya saat ini (sopir angkutan umum). Itu adalah jawaban yang nyata," katanya.

Menurut Jusri, ada metode yang menurutnya dianggap paling benar, yaitu 'menjebak' si pemohon SIM saat menjalani praktek mengemudi di jalan raya. Istilah 'menjebak' yang dimaksud adalah membuat rekayasa sedemikian rapih atau situasi genting berkendara yang tidak disadari oleh pemohon.

"Misal assessor (petugas berlisensi duduk sebagai penumpang), merakayasa situasi dan kondisi yang terburu-buru di tes praktek nyetir. Dalam situasi itu, assessor menyarankan pemohon lewat bahu jalan tol, atau situasi lainnya misal melanggar lampu merah. Nah di sana mental pemohon SIM terlihat apa dia pantas menerima SIM atau tidak," jelas Jusri.

Metode tersebut pernah dilakukan pada tahun 1970-an, dan terbukti berhasil meluluskan pengemudi berperilaku baik di jalan. Di sejumlah negara maju justru terus menerapkan metode 'menjebak' tersebut sebagai persyaratan pembuatan SIM.

"Ini telah dilakukan pada tahun 1970-an dan terbukti efektif untuk mengetahui perilaku pengemudi sebenarnya. Perlu diketahui metode ini dilakukan di banyak negara, di Indnesia (saat ini hanya) di perusahaan multinasional," pungkas Jusri.