Tingkat Konsumsi Tembakau di Indonesia Sangat Mengkhawatirkan

Resiko dari konsumsi tembakau kini tidak lagi terjadi di usia lanjut, justru diusia muda resiko akan penyakit yang disebabkan konsumsi tembakau juga bisa terkena.

Tingkat Konsumsi Tembakau di Indonesia Sangat Mengkhawatirkan

Webinar yang dilakukan PERKI dalam menyambut hari tanpa tembakau sedunia 2018, di Jakarta, Selasa (5/6/2018). (Foto: Ronalds).

Jakarta, BerlimaNews - Selasa (5/6/2018), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) memperingati hari Tanpa Tambakau Sedunia 2018, dengan slogan: 'Tobacco breaks heart” dan sub tema: 'Choose health, not tobacco'. Kedaruratan ancaman konsumsi tembakau di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan dan tentu saja masyarakat sangat menunggu kebijakan nasional pengendalian tembakau yang bersifat holistik termasuk aplikasi dan sanksi yang dapat dikenakan di tengah-tengah masyarakat, seperti di sekolah, fasilitas umum dan lainnya.

“Berdasarkan data WHO sedikitnya 7 juta orang meninggal di dunia karena konsumsi tembakau. Studi membuktikan, bahwa jika harga rokok dinaikkan maka akan berdampak positif bagi kesehatan masyarakat dan pendapatan negara, salah satunya yaitu studi yang dilakukan di Afrika Selatan dan Perancis, 1990-2005. PERKl mendukung terwujudnya cukai rokok ditingkatkan sampai 66% karena sudah dibuktikan pada studi tersebut bahwa peningkatan cukai rokok 3 kali akan mengurangi separuh dari jumlah perokok aktif." Ujar Dr. dr. lsmoyo Sunu, SpJP(K), FIHA. FasCC, Ketua Umum Pengurus Pusat PERKI.

Oleh karena itu, PERKI terus melakukan penyebaran tentang pengetahuan kardiovaskular. Salah satunya, dengan mengadakan Webinar secara rutin. “Kegiatan rutin Webinar PERKI bertujuan untuk mempercepat dan mempermudah penyebaran pendalaman dan update pengetahuan kardiovaskular bagi seluruh anggota PERKl agar dapat terciptanya kesamaan dan kesetaraan dalam memelihara kompetensi pada setiap dokter spesialis jantung dan pembuluh darah secara nasional.” jelasnya.

Selain itu media juga memiliki peran penting, sebagai salah satu yang bisa menginformasikan hal-hal dari penggunaan tembakau. "Media juga berperan penting dalam menginspirasi masyarakat untuk mengurangi konsumsi tembakau, melindungi para perokok aktif dari dampak negatif rokok serta meyakinkan kaum muda dan remaja untuk berhenti merokok dan tidak mencoba untuk merokok.” tambahnya. 

Informasi sendiri sebenarnya sudah banyak dilakukan, namun kesadaran masyarakat masih kurang.“Kedaruratan ancaman bahaya tembakau sebenarnya sudah sering diinformasikan kepada masyarakat, namun kesadaran dan kepedulian terhadap hal ini sampai sekarang masih dirasakan kurang. Hal ini terbukti dengan makin tingginya konsumsi tembakau di kalangan perokok muda, perokok baru sebagai dampak maraknya iklan gaya hidup dari kalangan industri rokok yang menyesatkan seperti merokok itu keren, dll.” jelas Laksmiati A.Hanafiah, Ketua III Yayasan Jantung Indonesia dan Ketua Harian Komnas Pengendalian Tembakau.

Laksmiati menambahkan, bahwa pengendalian konsumsi tembakau harus dilakukan secara holistik dan terintegrasi, baik oleh Pemerintah maupun masyarakat. "Pendidikan tentang bahaya tembakau dapat dimulai dari keluarga, sekolah dan komunitas-komunitas sehingga kita dapat menghindari munculnya generasi penerus konsumen zat adiktif ini," pungkasnya.

Menurut data WHO tahun 2015, lebih dari sepertiga anak laki-laki usia 13-15 tahun di indonesia saat ini mengonsumsi produk tembakau. Lebih dari 3.9 juta anak -antara usia 10 dan 14 tahun menjadi perokok setiap tahun, dan setidaknya 239 ribu anak di bawah umur 10 tahun sudah mulai merokok. Di samping itu, lebih dari 40 juta anak dibawah 5 tahun menjadi perokok pasif. Menurut WHO, risiko kanker paru-paru meningkat pada perokok pasif antara 20 dan 30 persen, dan risiko penyakit jantung sekitar 25-35 persen.