Menurut Survei Median, Elektabilitas Jokowi Hanya 36,2 Persen

Ini menunjukkan yang pertama bahwa hari ini masyarakat belum terlalu fokus untuk memikirkan siapa cawapresnya, masyarakat jauh lebih fokus untuk melihat siapa capresnya

Menurut Survei Median, Elektabilitas Jokowi Hanya 36,2 Persen

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo

Jakarta, BerlimaNews - Setahun sebelum pemilihan presiden, elektabilitas petahana Presiden Joko Widodo masih tertahan di kisaran 30 persenan. Survei yang dilakukan Media Survey Nasional (Median) pada April ini memperlihatkan elektabilitas Jokowi hanya 36,2 persen atau naik satu persen dari survei Februari sebesar Rp 35 persen.

Di bawah Jokowi ada nama Prabowo Subianto dengan elektabilitas 20,4 persen, Gatot Nurmantyo 7 persen, dan Jusuf Kalla 4,3 persen. "Kemudian Anies Baswedan 2 persen, Cak Imin 1,9 persen, AHY 1,8 persen dan Anis Matta 1,7 persen," ujar Direktur Riset Median, Sudarto, Senin (16/04/2018), memaparkan hasil surveinya.

Survei dilakukan pada 24 Maret hingga 6 April 2018 dengan responden sebanyak 1.200 orang. Responden dipilih secara random dengan teknik Multistage Random Sampling dan margin of error plus minus 2,9 persen tingkat kepercayaan 95 persen. "Pak Jokowi paling tinggi elektabilitasnya, karena masyarakat masih belum menemukan figur yang cocok melawan Jokowi, ada yang katakan Pak Prabowo cocok, ada yang mengatakan Pak Gatot, ada yang mengatakan Pak Anies, sehingga suara tersebar dibanyak tokoh," ungkapnya.

Median juga melakukan survei untuk cawapres. Hasilnya, Sudarto menyatakan hingga hari ini diketahui tidak ada satupun cawapres yang elektabilitasnya di atas 10 persen. Anies Baswedan memiliki elektabilitas yang paling tinggi dengan 6,2 persen. Disusul mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo dengan 5,4 persen, kemudian Prabowo Subianto dengan 4,9 persen, Cak Imin 4,7 persen. Kemudian AHY dengan 3,8 persen, lalu wiranto 3,7 persem HT 3,7 persen, terakhir Anis Matta dengan elektabilitas 3 persen. "Ini menunjukkan yang pertama bahwa hari ini masyarakat belum terlalu fokus untuk memikirkan siapa cawapresnya, masyarakat jauh lebih fokus untuk melihat siapa capresnya" ujarnya.