Emisi PLTU Batubara Cemari Kawasan Pantai Lovina dan Taman Nasional Bali Barat

Greenpeace Indonesia menyebut, Pantai Lovina dan Taman Nasional Bali Barat sudah tercemar dari pembangkit listrik Celukan Bawang, di Kabupaten Buleleng.

Emisi PLTU Batubara Cemari Kawasan Pantai Lovina dan Taman Nasional Bali Barat

Lumba-lumba di kawasan Pantai Lovina. (katalogwisata.com)

Jakarta, BerlimaNews - Greenpeace Indonesia menyebut, Pantai Lovina dan Taman Nasional Bali Barat sudah tercemar dari pembangkit listrik Celukan Bawang, di Kabupaten Buleleng.

PLTU Celukan Bawang hanya berjarak 20 km dari Pantai Lovina, kawasan wisata populer yang terkenal karena pantai pasir hitam, terumbu karang, dan lumba-lumba.

"Lumba-lumba khususnya akan terpengaruh oleh peningkatan lalu lintas kapal dan kebisingan dari mesin kapal. Polusi meningkat yang mendorong wisatawan pergi, mempengaruhi mata pencaharian semua orang yang bekerja di sektor ini," kata Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Didit Haryo.

Ia mengatakan, PLTU juga menimbulkan risiko bagi Taman Nasional Bali Barat, rumah bagi satwa langka dan dilindungi termasuk macan tutul Jawa, trenggiling dan jalak Bali yang semuanya sangat terancam. Tidak dapat dipungkiri bahwa emisi dari PLTU akan mencemari daerah yang indah ini. "Batubara bukan sumber listrik masa depan," kata Didit dalam keterangan pers yang diterima redaksi BerlimaNews.com.

PLTU yang ada dikembangkan oleh sekelompok perusahaan, termasuk China Huadian Engineering Co, Ltd (CHEC), Merryline International Pte. Ltd (MIP) dan PT General Energy Indonesia (GEI), dengan perkiraan total investasi mencapai 700 juta USD, didukung oleh China Development Bank.

Di dalam negeri, Cina telah menderita polusi udara yang mengerikan dari ketergantungannya pada batubara. Ketika Cina mengalami transisi energi dari batubara dan menunjukkan kepada dunia apa yang dapat diberikan energi terbarukan, perusahaan dan bank China juga harus bertujuan untuk mempercepat transisi energi ke luar negeri dengan berinvestasi lebih banyak ke energi terbarukan.

Tahun lalu saja China menghasilkan kapasitas terpasang dari tenaga surya lebih dari seperempat dari total permintaan listrik tahunan Indonesia. "Ini perlu menjadi masa depan kita juga. Bali hanya akan bertahan hidup dan berkembang sebagai tujuan wisata jika memiliki energi yang bersih dan berkelanjutan, bukan emisi polusi dari pembangkit batubara seperti di Celukan Bawang," tutupnya.