Mulai Akhir 2018, Perusahaan Ritel Inggris Hentikan Penggunaan Bahan Baku Minyak Sawit

Iceland, sebuah jaringan supermarket di Inggris, mengumumkan akan berhenti menggunakan bahan baku minyak kelapa sawit pada produknya.

Mulai Akhir 2018, Perusahaan Ritel Inggris Hentikan Penggunaan Bahan Baku Minyak Sawit

Ilustrasi (ist)

Jakarta, BerlimaNews - Iceland, sebuah jaringan supermarket di Inggris, mengumumkan akan berhenti menggunakan bahan baku minyak kelapa sawit pada produknya.

Hal tersebut dilakukan karena Iceland memandang tata kelola perkebunan sawit dan rantai pasok produsen sawit saat ini berkontribusi terhadap pengrusakan hutan hujan di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia dan Malaysia.

Dalam rilis yang dikeluarkan Iceland pada Selasa (10/4/2018), mayoritas konsumen di Inggris menyatakan tidak ingin menjadi bagian dari sistem bisnis perusak habitat orangutan yang kini terancam punah.

“Sikap ritel Iceland merupakan tanggapan langsung atas kegagalan sejumlah produsen sawit di Indonesia, yang belum dapat membuktikan pasokan sawit mereka bersih dari praktik deforestasi,” kata Kiki Taufik, Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace untuk Indonesia.

“Citra kelapa sawit di mata dunia dihancurkan sendiri oleh perusahaan-perusahaan sawit yang masih terus menghancurkan hutan dan lahan gambut Indonesia, untuk pembukaan perkebunan baru. Pemerintah harus bertindak menghentikan perusahaan-perusahaan ini yang merusak citra Indonesia, dan menggagalkan upaya perbaikan tata kelola hutan dan lahan gambut,” lanjut Kiki.

Keputusan ini akan diterapkan di akhir tahun 2018, hingga Iceland mendapat jaminan bahan baku minyak kelapa sawit untuk seluruh produknya, tidak berasal dari pemasok yang masih merusak hutan.

“Semua produk berbahan minyak kelapa sawit berkontribusi terhadap kerusakan hutan Indonesia, karena sampai sekarang belum ada produsen-produsen minyak sawit yang dapat membuktikan mereka bebas dari deforestasi,” ujar Kiki.

Pada waktu yang bersamaan, sikap Iceland ini muncul di tengah kekhawatiran Pemerintah Indonesia atas kesepakatan resolusi sawit parlemen Uni Eropa, yang akan menghapus penggunaan produk kelapa sawit pada 2021.

Pemerintah kini menghadapi risiko pengurangan drastis ekspor sawit ke negara-negara Uni Eropa. Padahal minyak kelapa sawit mentah merupakan andalan ekspor Indonesia dan sebagai penyumbang terbesar devisa negara di sektor non-migas.

Greenpeace menilai kondisi ini tidak menguntungkan bagi negara karena sawit telah menjadi sumber penghidupan 22 juta masyarakat Indonesia. Kelapa sawit jika ditanam dengan mengedepankan pelestarian alam, tanpa merusak hutan dan lahan gambut, maka akan menjadi solusi bagi permasalahan kesejahteraan ekonomi rakyat.

“Ini bukanlah perang dagang minyak kedelai atau minyak bunga matahari dengan sawit seperti yang kerap didengungkan oleh berbagai pihak yang mencoba menutupi realita kerusakan hutan akibat sawit, dan menikmati keuntungan dari perusakan tersebut. Andai saja sejak awal para produsen minyak kelapa sawit transparan, menetapkan standar kuat dan beritikad baik mereformasi diri, risiko kehilangan pasar dunia seperti ini tidak akan terjadi,” tutup Kiki.