Pemerintah Islandia Umumkan Boikot Piala Dunia 2018 di Rusia

Islandia telah mengumumkan akan memboikot Piala Dunia 2018 yang akan digelar di Rusia pada Juni-Juli mendatang. Keputusan boikot ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap tindakan Rusia melancarkan serangan racun saraf terhadap Sergei Skripal dan putrinya di kota Salisbury pada 4 Maret lalu.

Pemerintah Islandia Umumkan Boikot Piala Dunia 2018 di Rusia

Timnas Islandia. (istimewa)

Jakarta, BerlimaNews - Islandia telah mengumumkan akan memboikot Piala Dunia 2018 yang akan digelar di Rusia pada Juni-Juli mendatang. Keputusan boikot ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap tindakan Rusia melancarkan serangan racun saraf terhadap Sergei Skripal dan putrinya di kota Salisbury pada 4 Maret lalu.

Negara kepulauan kecil dengan lebih dari 300.000 penduduk ini berhasil mencapai putaran final turnamen sepak bola terbesar di dunia. Para pemimpin negara Islandia tidak akan menghadiri Piala Dunia di Rusia tahun ini sebagai bagian dari tanggapan internasional untuk menghukum Kremlin. "Tidak akan ada kehadiran perwakilan diplomatik Islandia di Piala Dunia," kata Kementerian Luar Negeri.

"Di antara tindakan yang diambil Islandia adalah penundaan sementara dari semua dialog bilateral tingkat tinggi dengan pihak berwenang Rusia. Akibatnya, para pemimpin Islandia tidak akan menghadiri Piala Dunia FIFA di Rusia musim panas ini."

Rusia telah berulang kali membantah bertanggung jawab atas serangan racun saraf tersebut. "Sejauh ini, tanggapan Rusia sangat kurang," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Islandia.

"Rusia harus memberikan penjelasan yang dapat dipercaya tentang bagaimana racun saraf yang awalnya diproduksi di laboratorium Soviet digunakan untuk menyerang warga sipil di Inggris."

Islandia juga mengatakan pihaknya sementara menangguhkan kontak bilateral dengan Rusia pada tingkat tertinggi. "Semua sekutu dan mitra terdekat Islandia telah memutuskan untuk mengambil langkah-langkah terhadap Rusia setelah serangan Salisbury, termasuk negara-negara Nordik, sebagian besar negara anggota NATO serta beberapa negara Uni Eropa."

Pada Senin, Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan bahwa lebih dari 130 orang mungkin telah terpapar dengan racun syaraf yang diyakini telah digunakan untuk meracuni mantan mata-mata Sergei Skripal dan putrinya di kota Salisbury, Inggris, pada 4 Maret.

May, menyambut baik adanya solidaritas. Ia mengatakan 18 negara telah mengumumkan rencananya untuk mengusir para pejabat Rusia. Mereka termasuk 14 negara Uni Eropa. Secara total, 100 diplomat Rusia telah dihapus, pengusiran negara-negara Barat terbesar kepada para diplomat Rusia sejak puncak Perang Dingin.