Buntut Pembubaran Ibu-ibu Majelis yang tengah Berzikir, Kapolres Banggai Dicopot

Kapolres Banggai, AKBP Heru Pramukarno dicopot dari jabatannya, menyusul insiden pembubaran paksa ibu-ibu yang tengah berzikir saat eksekusi lahan di Tanjung Sari, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah

Buntut Pembubaran Ibu-ibu Majelis yang tengah Berzikir, Kapolres Banggai Dicopot

Ilustrasi (ist)

Jakarta, BerlimaNews - Kapolres Banggai, AKBP Heru Pramukarno dicopot dari jabatannya, menyusul insiden pembubaran paksa ibu-ibu yang tengah berzikir saat eksekusi lahan di Tanjung Sari, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Senin (19/3/2018) lalu.

"Hari ini saya mendapatkan informasi dari Asisten SDM, kapolresnya dicopot untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh paminal propram," ujar Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto, Sabtu (24/3/2018).

Pencopotan itu dilakukan setelah penyidik Paminal Propam Polri menemukan adanya indikasi pelanggaran dalam pembubaran ibu-ibu yang tengah berzikir yang akhirnya berujung ricuh. Hanya saja, Setyo enggan membeberkan pelanggaran polisi. "Sudah ada indikasi (pelanggaran). Tidak sesuai prosedur yang dilakukan. Ada beberapa hal," katanya.

Setyo menjelaskan, Polri memiliki prosedur dalam membubarkan massa. Pembubaran massa terlebih dulu harus dilakukan secara persuasif dengan mengedepankan dialog. "Kita punya SOP ketika membubarkan, pertama ada negosiasi dulu. Kemudian setelah negosiasi kita melakukan pendekatan-pendekatan secara humanis," beber Jenderal bintang dua itu.

Sebelumnya, Wakapolri Komjen Pol. Syafruddin geram atas tindakan personel Kepolisian Resort Banggai. "Itu ibu-ibu sedang zikir, terus dieksekusi, oleh karena itu saya perintahkan investigasi menyeluruh," kata Wakapolri di Jakarta, Jumat (23/3).

Investigasi menyeluruh itu, lanjut Wakapolri, mulai dari internal Polri hingga tingkat pemda. Dia juga menyayangkan langkah pemda setempat dimana hanya mengeksekusi lahan warga namun tidak memberikan solusi. "Jadi harus ada solusinya dulu, baru melakukan langkah-langkah pembebasan lahan," ujarnya.

Tindakan refresif aparat saat membubarkan paksa ibu-ibu dengan menggunakan gas air mata, menurut Wakapolri merupakan tindakan tidak sesuai prosedur tetap (protap) dalam menghadapi dan membubarkan massa. "Jika hasil investigasi daripada Propam mengatakan demikian, akan saya copot kapolresnya, dan akan diproses hukum," ancam Wakapolri.

Proses eksekusi tahap kedua atas sebidang tanah di kawasan Tanjung, Kelurahan Keraton, Kota Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulteng, Senin petang (19/3) ricuh. Dalam insiden itu pihak kepolisian menahan sembilan warga.

Dalam eksekusi, pihak Kepolisian menurunkan sekitar 500 personel, sebanyak 350 orang di antaranya adalah petugas yang di-BKO dari Polda Sulteng ke Polres Banggai dan masih ditambah lagi dengan sekitar 100 personel TNI.