RKI: Satu Tekad, Satu Visi, Anies Baswedan Hadiri Deklarasi Gerakan Kebangkitan Indonesia

Kemiskinan di Jakarta sangat memprihatinkan. Kemiskinan di daerah pelosok lain masih lebih baik, karena rakyat  masih bisa menikmati segarnya udara, wilayah terbuka luas nan indah, hasil bumi dan kebun menghidupinya.

RKI: Satu Tekad, Satu Visi, Anies Baswedan Hadiri Deklarasi Gerakan Kebangkitan Indonesia

Prijnto

“Mencermati perkembangan lingkungan strategis global, regional dan nasional, serta dalam rangka mewujudkan cita-cita Indonesia yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Aman Tentram, Adil dan Makmur, kami ingin mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bangkit agar tidak punah”. Itulah kalimat pembukaan dari undangan para pemrakarsa Gerakan Kebangkitan Indonesia (GKI). Ada 3 kalimat kunci (1) mencermati perkembangan Lingstra (2) mewujudkan cita-cita (3) mengajak rakyat bangkit.

Sangat jelas kemana GKI bergerak. Apalagi undangan menyebutkan GKI sebagai gerakan moral dan intelektual. Gubernur Anies yang peduli kepada rakyatnya, menangkap secara cerdas. Permohonan untuk menghadiri deklarasi dan memberikan sambutan kontan diterima dan dijadwalkan secara resmi. Sambutan Anies memberikan apresiasi dan harapan. Tampak ada kesamaan tekad untuk mengajak  bangkit memperbaiki kesejahteraan rakyat. Elaborasi kebangkitan diperkecil untuk wilayah Jakarta, sesuai jabatannya sebagai Gubernur. Anies membandingkan kemiskinan di Jakarta dengan kemiskinan di daerah-daerah terpencil yang pernah dikunjunginya.

Kemiskinan di Jakarta sangat memprihatinkan. Kemiskinan di daerah pelosok lain masih lebih baik, karena rakyat  masih bisa menikmati segarnya udara, wilayah terbuka luas nan indah, hasil bumi dan kebun menghidupinya. Apa yang dinikmati rakyat miskin di daerah tersebut, tidak bisa dinikmati rakyat miskin di Jakarta yang hidup di kawasan kumuh, udara kotor, rumah yang pengap berdempetan, biaya hidup tinggi, lapangan pekerjaan sulit, tingkat pendidikan rendah, dlsb.

Konon, Bertolt Brecht, penyair dan dramawan Jerman berkata : “Buta terburuk adalah buta politik. Orang yang buta politik, tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya bergantung kepada keputusan politik. Dia membanggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar ‘Aku benci politik!’ Sungguh bodoh dia, yang tak mengetahui bahwa karena dia tak mau tahu politik, akibatnya pelacuran, anak terlantar, perampokan, dan yang terburuk, korupsi dan perusahaan multi nasional yang menguras kekayaan negeri”.

Saya yakin, kaum intelektual, praktisi dan aktivis yang  peduli, akan membenarkan Bertolt Brecht. Pemrakarsa Gerakan Kebangkitan Indonesia (teropongsenayan.com/79028-rki-gerakan-kebangkitan-indonesia-lahir-dari-whatsapp-group) juga sependapat. Tidak dipungkiri, sistem politik menghasilkan pemimpin, dan konstitusi negara mendasari sistem politik yang melahirkan pemimpin. Pemimpin yang lahir dari sistem politik  itulah yang menentukan dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan dan tidak dilakukan untuk rakyatnya.

Karena itulah, Gerakan Kebangkitan Indonesia sebagai gerakan moral dan intelektual, menetapkan 4 misi untuk mencapai visinya Indonesia yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Aman Tentram, Adil dan Makmur  sebagai berikut :

  1. Mengedukasi dan mengajak “Memilih Pemimpin Pancasilais”.
  2. Mengedukasi dan mengajak “Kembali ke UUD 45 Asli, Untuk Disempurnakan”.
  3. Mengedukasi dan mengajak membangun “Persaudaraan Indonesia sesuai jati diri Bangsa Indonesia”.
  4. Mengedukasi dan mengajak  “Memperkuat kemandirian bidang ekonomi dengan basis ekonomi kerakyatan”.

Pemimpin Pancasilais adalah kebutuhan pokok. Sebab para pemimpin itulah yang  memimpin, mengkomando, mengedukasi, mengarahkan dan mengendalikan jalannya pemerintahan. Sedangkan Undang-Undang Dasar sebagai dasar sistem politik yang akan melahirkan pemimpin. Di samping itu, juga sebagai acuan dasar lahirnya kebijakan di tataran operasional yang akan dilakukan para pemimpin. Sehingga Undang-Undang Dasar sangatlah menentukan warna negara, apakah itu sistem ketatanegaraannya, sistem politiknya, sistem perekonomiannya, dll.

Membangun ‘Persaudaraan Indonesia’ mutlak. Persaudaraan itu membuahkan persatuan yang berujung terciptanya rasa aman dan keamanan atau aman tentram, sebagai syarat untuk kita bisa membangun. Sedang memperkuat kemandirian bidang ekonomi pada hakikatnya untuk kesejahteraan rakyat. Jadi ke empat misi tersebut merupakan kebutuhan yang mendasar dan saling mengkait untuk mewujudkan visi.

Melaksanakan ke empat misi tersebut bukan hal yang mudah. Para pemrakarsa di Rumah Kebangkitan Indonesia berharap bantuan dan kehadiran kaum intelektual, praktisi dan aktivis yang peduli terhadap NKRI, untuk bersama-sama berpikir, menuangkan gagasan dan mengeksekusinya di lapangan. Sejarah mencatat, kemerdekaan Indonesia salah satunya dipelopori oleh kaum intelektual. Dr. Soetomo dan para mahasiswa Stovia, mendirikan Boedi Oetomo, 20 Mei 1908, sebagai organisasi yang bergerak untuk Indonesia Merdeka, yang sampai saat ini, tonggak sejarah tersebut diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.

Kita saat ini sebagai generasi pewaris, memiliki kewajiban mengisi kemerdekaan, mewujudkan cita-cita Indonesia. Sudah saatnya kaum intelektual, praktisi, dan aktivis bangkit bersatu padu, untuk mengedukasi dan mengajak rakyat Indonesia bangkit dan bergerak agar NKRI tidak punah. Maju tak gentar, membela yang benar. Maju tak gentar, hak kita diserang. Maju serentak, mengusir penyerang. Maju serentak, tentu kita menang. Itulah lirik lagu wajib Maju Tak Gentar yang dinyanyikan saat deklarasi GKI. Semoga Tuhan memberikan ‘pitulungan’ atau pertolongan. Aaamiin

Prijanto, Aster KASAD 2006-2007, Rumah Kebangkitan Indonesia, 11 Januari 2018