Laporan Kasus Difteri Tak Ada Lagi, Menkes Pastikan Imunisasi Tetap Berjalan

Kementerian Kesehatan memastikan akan tetap terus melakukan imunisasi difteri meskipun laporan perihal kasus difteri sampai 9 Januari 2018, dari 85 kabupaten yang sebelumnya 170 kasus, sudah tidak ditemukan lagi.

Laporan Kasus Difteri Tak Ada Lagi, Menkes Pastikan Imunisasi Tetap Berjalan

Menkes pastikan imunisasi Difteri berjalan terus. (istimewa)

Jakarta, BerlimaNews - Kementerian Kesehatan memastikan akan tetap terus melakukan imunisasi difteri meskipun laporan perihal kasus difteri sampai 9 Januari 2018, dari 85 kabupaten yang sebelumnya 170 kasus, sudah tidak ditemukan lagi.

"Imunisasi kepada anak dan dewasa harus terus dilakukan untuk menjaga sistem imun tubuh dan mencegah virus-virus yang masuk ke dalam tubuh jika daya tahan tubuh sedang melemah," kata Menteri Kesehatan, Nila Moeloek dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 di Ruang Serbaguna Roeslan Abdulgani, Kantor Kemenkominfo, Jumat (12/1/2018).

Ia mengungkapkan, tahun lalu difteri telah tercatat sebagai kasus kejadian luar biasa (KLB) dengan tingkat kematian 4,62 persen penderitanya.

"Kasus difteri ini, jika satu saja yang kena, maka bisa menular. Sebab, bakterinya bisa menyebarkan toksin sehingga menyerang otot jantung dan sistem pernapasan yang bisa sampai menimbulkan kematian. Untuk itu, harus dicegah," ujarnya.

Kasus difteri menurutnya dialami oleh tiga faktor. Pertama, kepadatan penduduk sehingga memudahakan penderita difteri menularkan virusnya. Sebab, difteri mudah menular hanya dengan percikan ludah dari penderita. Kedua mobilisasi penduduk yang tinggi. Sedangkan yang terakhir adalah tidak terlaksananya imunisasi.

Oleh karena itu kementerian kesehatan mengupayakan untuk mendeteksi difteri di berbagai wilayah serta mengimbau ke seluruh daerah Indonesia melakukan imunisasi. "Selain itu, kami menganjurkan untuk memberikan antibiotika. Antibiotik itu mematikan kuman," ujarnya.

Nila menyebutkan, persediaan vaksin difteri untuk saat ini dan setahun ke depan, sudah lebih dari cukup mengingat produsen vaksin difteri (PT Bio Farma) mengkhususkan menyediakan lebih banyak vaksin di dalam negeri dan menghentikan ekspornya ke 136 negara. Oleh karenanya, ia menegaskan vaksin difteri aman digunakan. "Vaksin yang digunakan Bio farma ini, sudah dipakai di 136 negara yang sebagian besar negara Muslim," ujarnya.