RKI: Gerakan Kebangkitan Indonesia Lahir dari WhatsApp Group

Segala macam berita di WhatsApp group selalu tersedia. Berbagai gaya bahasa ada. Artikel dan komentar dari tidak berbobot sampai dengan yang berbobot, ada.

RKI: Gerakan Kebangkitan Indonesia Lahir dari WhatsApp Group

Prijanto

Segala macam berita di WhatsApp group selalu tersedia. Berbagai gaya bahasa ada.  Artikel dan komentar dari tidak berbobot sampai dengan yang berbobot, ada. Ada yang bersifat edukasi, propaganda, agitasi, penggalangan, unjuk kekuatan, ngajak musuhan, pamer kecerdasan, ujaran kesengitan, ujaran kebencian atau ketidaksukaan, komentar asal muncul pun juga ada; pokoknya lengkap bak hidangan di meja makan warung Padang.

Dari postingan anggota group, bisa dibaca tentang karakter, kecerdasan, arah pikiran dan kehendak, serta kelompok dari mana. Pemrakarsa Gerakan Kebangkitan Indonesia (GKI) adalah sosok-sosok dari berbagai WhatsApp group, namun kebanyakan dari group Peduli Negara-1. Mereka berkumpul dan bersatu karena memiliki kegalauan, pemikiran, niat dan kehendak yang sama untuk memperbaiki NKRI.

Mereka mencermati perkembangan lingkungan strategis global, regional dan nasional serta melakukan kalkulasi dampak terhadap NKRI. Dari berbagai tulisan dan komentar sosok pemrakarsa terhadap berbagai kasus dan peristiwa, patut dinilai mereka galau melihat situasi saat ini. Kegalauan yang muncul antara lain terkait dengan karakter dan sikap pemimpin di berbagai strata dan tempat, yang kebanyakan korup, abai akan tugas, wewenang dan tanggung jawabnya.

Kegalauan juga mencul terhadap sistem ketatanegaraan akibat Konstitusi Negara yang diamandemen. Terkoyaknya persatuan bangsa akibat Pilkada dan Pilpres secara langsung, sistem perpolitikan dan perekonomian, kesenjangan sosial, masalah tenaga kerja dan kesejahteraan rakyat, penegakan hukum, dll. Dari berbagai peristiwa patut diduga ada kekuatan tertentu yang melakukan ‘invasi senyap’ terhadap Indonesia.

Secara ekstrem para pemrakarsa mengatakan, kita harus bangkit dan bergerak agar NKRI tidak punah.

Melaui Japri WA, seperti biasanya, berkumpulah beberapa orang di Parley Barbers and Lounce, Jl. Patal Senayan Raya 3 B, Senayan Jakarta, pada tanggal 12 Desember 2017, untuk ngopi sore. Waktu itu, saya tidak ingin ngopi hanya curhat melihat kondisi negara dan bangsa.

Saya minta dr. Zulkifli untuk membawa anak muda yang bisa dipercaya sebagai notulis pertemuan. Saya dan para senior ingin pertemuan harus membuahkan rencana kegiatan. Tidak hanya ‘Nato’ alias tidak ada aksi cuma ngomong doang. Alhamdulillah, dr. Zul membawa Nur Ridwan, seorang aktivis muda dari LSM Bina Bangun Bangsa yang sudah saya kenal lewat WA.

Pertemuan menghasilkan kesepakatan, bahwasanya sudah saatnya untuk mengajak bangsa Indonesia bangkit dan bergerak melawan segala bentuk ‘invasi senyap’ agar NKRI tidak punah. Karena itulah rancangan kegiatan diberi nama ‘Gerakan Kebangkitan Indonesia’ (GKI). Gerakan ini sifatnya gerakan moral dan intelektual. Tempat membuat kajian dan perencanaan diberi nama ‘Rumah Kebangkitan Indonesia’ (RKI).

Dari yang hadir di pertemuan tanggal 12 Desember 2017 ditawarkan apakah bersedia namanya dicantumkan dalam undangan sebagai ‘Pemrakarsa’. Ada 2 orang yang tidak bersedia, karena dirinya sudah ada di organisasi tertentu. Nama pemrakarsa sebagai pengundang Deklarasi Gerakan Kebangkitan Indonesia adalah :

Jenderal TNI Purn Djoko Santoso, Irjen Pol Purn Drs. Taufiequrachman Ruky SH, Dr. Hariman Siregar, Bambang Wiwoho, Mayjen TNI Purn Prijanto, Drs. HM. Hatta Taliwang, Ir. Heppy Trenggono, M. Kom, Lily Chodidjah Wahid, Marsda TNI Purn Amirullah Amin, Mayjen TNI Purn B. Sumarno, dr. Zulkifli S. Ekomei, H. Ariady Achmad, S.Ak, Drs. Djoko Edhi Abdurahman, SE, SH, Edwin H. Soekowati, Samuel Lengkey, SH, MH, Batara Hutagalung, Ir. Wawat Kurniawan, Msc, Bakri Abdullah dan Nur Ridwan.

Ketika undangan diposting di WAG, ada beberapa yang merasa ditinggal. Lewat WA Japri, menanyakan mengapa dirinya tidak diajak bicara. Ia ingin masuk sebagai pemrakasa. Untuk mengatasi hal tersebut Admin WAG PN-1, Hatta Taliwang memposting ajakan, siapa yang memiliki kehendak sama dan bersedia ikut sebagai pemrakarsa Gerakan Kebangkitan Indonesia. Nama-nama pemrakarsa tidak mungkin tercantum di undangan semua, maka dicantumkanlah pada ‘benner’ saat deklarasi.

Anggota WAG PN-1 yang ikut sebagai pemrakarsa tetapi tidak sempat dicantumkan dalam undangan adalah Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA, Dr (Cand) Dina Nurul Fitria, SE, MT, Dr. Marwan Batu Bara, MSc, Dra. Hj. Rahmah Hasjim, Ir. Rahmad Hidayat, Tumpal Daniel S, M.Si, Ir. Ibnu Tadji HN, Ir. Tjoek Azis Soeprapto, MSc, Martimus Amin, SH, Dr. Iwan Ratman, Dr. Ir. Masri Sitanggang MP. Sesungguhnya masih banyak lagi, namun untuk menyatakan ikut sebagai pemrakarsa di WAG sangat terbatas waktunya.

Penyusunan konsepsi, visi, misi dan rencana deklarasi dilakukan koordinasi melalui WhatsApp. Diputuskan deklarasi Gerakan Kebangkitan Indonesia dilaksanakan tanggal 7 Januari 2018 di Ballroom gedung Is Plaza, Jl. Pramuka Raya no. 150 Jakarta Timur. Alhamdulillah, atas ijin dan ridho Allah SWT, deklarasi Gerakan Kebangkitan Indonesia terlaksana dengan aman dan lancar. Tamu yang hadir melebihi undangan, atau lebih dari 250 kursi yang disediakan. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan hadir, memberikan apresiasi dan berharap GKI bisa berkiprah di DKI Jakarta mengatasi kemiskinan. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan meridhoi GKI. Aaamiiin.

Oleh: Prijanto, Aster KASAD 2006-2007

RUMAH KEBANGKITAN INDONESIA, 8 JANUARI 2018